Panduan Desain Grafis Untuk Non-Designer


Apakah Anda sering bingung jika harus membuat sebuah poster, spanduk, atau brosur yangterlihat bagus? Apakah Anda merasa frustasi karena Anda tidak bisa membuat desain yangbagus dan terlihat indah? Apakah anda merasa desain yang Anda buat tidak pernah benar?

Benar dan salah tidak ada dalam desain grafis, yang ada hanyalah komunikasi yang efektif dan non-efektif.

Desain grafis seringkali terlihat sebagai area eksklusif untuk orang-orang yang berjiwa seni atau orang-orang yang memiliki gelar di desain grafis. Memang dua hal yang cukup menentukan kehebatan dalam desain grafis adalah bakat dan latihan (practice makes perfect), namun semua orang pasti bisa mendesain dengan cukup baik dengan mempelajari konsep-konsep dasarnya.

Seperti fotografi saja, semua orang bisa membidik dan mengambil gambar sesuka hati. Namun, jika mereka mempelajari konsep dasarnya—rule of the thirds, silakan cari di Google—foto yang mereka ambil bisa terlihat jauh lebih baik.Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus Anda ketahui yang diharapkan akanmembantu Anda memproduksi desain yang lebih baik dan terlihat lebih professional. Artikel ini bukan suatu peraturan, namun hanya berupa suatu anjuran untuk teman-temanyang sesama non-designer. (I swear I’m not a designer, I’m a programmer!)

Sampaikan Melalui Desain Grafis

Quote dari AIGA’s Graphic Design: A Career Guide: (translated to Indonesia)

“Jika Anda ingin mengumumkan atau menjual sesuatu, menghibur atau membujuk seseorang, menjelaskan suatu system yang rumit atau mendemonstrasikan sebuah proses, atau dengan kata lain, Anda mempunyai sebuah pesan yang ingin Anda komunikasikan. Bagaimana Anda mengirimkan pesan tersebut?

Anda bisa saja memberi tahu orang demi satu atau mem-broadcast-nya dengan radio atau loudspeaker. Namun itu adalah bentuk komunikasi verbal. Namun jika Anda menggunakan media visual (membuat poster, mengetik huruf, membuat ikon atau logo, atau iklan), Anda memnggunakan komunikasi visual bernama desain grafis.”

“Desainer membuat, memilih, dan mengatur elemen-elemen desain—tipografi, gambar, ‘white space’ di sekitar mereka—untuk mengkomunikasikan sebuah pesan”

Dari quote di atas, pahamilah bahwa tujuan dari sebuah desain grafis adalah menyampaikan pesan, informasi atau ide. Mungkin itulah mengapa ada jurusan di perkuliahan yang bernama DKV (Desain Komunikasi Visual).

Berhentilah berpikir bahwa desain grafis itu hanyalah seni. Desain grafis memang bisa sangat artistic, namun tetap hanya memiliki 1 tujuan: mengkomunikasikan atau menyampaikan sebuah pesan.

Ketahui Apa Yang Ingin Anda Sampaikan

Adalah hal yang penting untuk mengetahui apa yang Anda coba sampaikan dengan desain. ‘What does this messsage have to do with making things look good?’ Anggap saja seperti memberikan sebuah presentasi atau pidato. Jika Anda tidak menguasai atau memahami pesan yang Anda sampaikan, maka betapapun hebat Anda berbicara, betapa lucu Anda bertutur-kata, atau betapa menariknya Anda, tidak akan berguna. Anda hanya akan menghabiskan waktu Anda dan pendengar.

Sama saja seperti sebuah desain: desain adalah kendaraan yang membantu Anda mengkomunikasikan pesan, sedangkan pesan itu sendiri Adalah kunci kendaraan tersebut. Jika desain tersebut tidak cocok dengan pesan Anda, atau sebaliknya, maka desain Anda tidak akan efektif.

And that is the point dari desain grafis: efektif. Jika anda ingin membuat karya seni yang keren, Anda lebih baik belajar melukis. Jangan membuat desain Anda menjadi artistik karena Anda memang bisa melakukannya, tapi buatlah desain tersebut Artistik jika itu cara Anda bisa mengkomunikasikan pesan Anda secara visual.

Misalnya, Anda harus membuat brosur untuk sebuah panti jompo. Desain grafis dari brosur Anda tentunya harus membantu mengkomunikasikan pesan dari brosur Anda, yaitu Anda mempunyai pegawai yang semangat dalam merawat orang jompo, yang care, yang membuat orang-orang jompo merasa bahwa mereka mempunyai keluarga baru.

Berdasarkan informasi tersebut, tentunya Anda tidak akan membuat desain dengan gambar-gambar kartun. Meskipun nantinya desain brosur Anda terlihat bagus, namun tetap tidak akan mendukung pesan yang ingin Anda sampaikan, dan bahkan akan membuat ‘calon klien’ Anda menganggap mereka akan diperlakukan seperti anak-anak nantinya.

Pilih Warna Yang Tepat

Skema campuran warna yang unik dan baik memang susah dibuat, apalagi jika Anda tidak mempelajari sedikit tentang teori warna. Namun jika Anda sudah menentukan suatu warna yang tepat untuk suatu brand, maka tetaplah menggunakan sepuhan warna tersebut.

Contoh pertama, BINUS University, warna brand-nya adalah ungu tua. Walaupun tidak dipakai untuk logo, warna tersebut muncul hampir di semua media yang digunakan BINUS: kop surat, website, spanduk, dan lainnya. Yang lebih ekstrim lagi adalah UPS dengan warna logo cokelat. Seragam pekerja mereka juga cokelat, begitu juga dengan warna kendaraan delivery mereka.

Warna yang berbeda akan memberikan pesan yang berbeda. Misal biru memberikan kesan tenang, intelek, dalam. Kuning memberikan kesan ceria, pengecut; merah itu berani, sexy, dan elegan; hijau itu kemurnian dan bahkan racun. Masih banyak makna dari warna yang belum ditulis di sini.

Kombinasi warna pun mampu memberikan kesan yang berbeda. Warna yang muncul sebaiknya mempunyai kontras yang cukup, merefleksikan pesan yang ingin disampaikan dalam poster dan mempunyai appeal yang baik. Warna harus bisa memberi highlight, memisahkan, mendefinisikan informasi. Jika warna justru malah mengaburkan informasi, maka warna yang dipilih kurang tepat.

Berikan White Space

White space dalam desain menyediakan viewer untuk ‘bernapas’. White space tidak harus berwarna putih, namun sebuah tempat kosong tidak diisi informasi apapun untuk menyediakan kontras dan meng-empasis informasi yang diberikan. Dalam desain, less is more! Tidak usah membuat desain yang terlalu ramai, karena dapat membingungkan viewer.

Gunakan Font Seperlunya

Beberapa font memang unik dan terlihat keren. Terkadang saking kerennya, Anda langsung masukkan saja di desain Anda tanpa berpikir panjang. Bahkan terkadang Anda memasukkan banyak font yang terlihat keren agar desain Anda terlihat keren juga.

Inilah yang harus dihindari. Menggunakan font dengan sembarangan seperti itu membuat Anda terlihat tidak mampu menggunakan font dengan baik. Gunakan dua atau tiga font dan tetaplah menggunakan font tersebut di dalam desain Anda. Satu font untuk headline, satu untuk teks konten, dan mungkin opsional satu lagi untuk aksen seperti quote, atau mungkin subheadline.

Gunakan Clip-art Seperlunya

Setiap gambar dalam desain Anda harus memiliki tujuan tertentu. Terlalu banyak menggunakan clipart menandakan hasil karya seorang desainer amatir. Hanya karena Anda mempunyai clipart library lebih dari 1000 buah, tidak berarti Anda harus menggunakannya tanpa perancanaan yang hati-hati.

Jika Anda akan menggunakan clipart, gunakan gambar yang mempunyai style yang sama, terutama jika clipart tersebut dibuat oleh artis yang sama.

Teknik yang tidak mudah namun cukup berguna: gunakan sebuah gambar ber-resolusi tinggi dan crop bagian gambar tersebut untuk bagian-bagian berbeda dalam desain Anda. Lihat tutorialnya di Before & After Magazine.

Konsisten

Konsistensi adalah hal yang sangat penting dalam desain. Banyak flyer, brosur, poster yang menggunakan clipart yang berbeda-beda, banyak font yang berbeda, warna-warna yang ‘edan’, dan ukuran font yang berbeda pula. Wow!

Desain Anda harus konsisten, dan desain Anda juga harus membawa image yang konsisten tentang perusahaan Anda. Gunakan pilihan font yang sama, skema warna yang sama, penempatan logo yang sama di poster, brosur, dan media cetak lainnya. Hal ini akan membantu menjaga kesatuan image perusahaan atau brand Anda, dan terlihat sangat professional.

Akhir kata, selamat mendesain!

SUMBER: http://www.adandu.com/forum/id-4124

HAL LAIN TENTANG DESAIN

Kalau benar begitu berarti desain itu sama dengan seni; bedanya pada kata ‘terapan’. Agar memenuhi syarat sebagai ‘terapan’, berarti desain itu seni yang berorientasi kepada kegunaan yang berlaku untuk umum, bukan seni yang hanya berguna sebagai ekspresi pembuatnya. Desain itu harus patuh objektivitas, bersih dari pengaruh subyektivitas. Desain berpusat pada rekayasa masalah, bukan pada keinginan dan kebutuhan pembuatnya. Jadi, penekanan desain bukan pada karyanya dan juga bukan pula pada sisi pembuatnya, tetapi lebih mengurusi kegunaan karyanya. Pada akhirnya kita menikmati seni dari karyanya; dan menikmati desain dari kegunaannya.

Bersih Subyektivitas

Dalam banyak kesempatan, desainer bisa berfungsi sebagai publik sasaran –audienceatau konsumen– dari program pembuatan desain yang dilakukannnya. Di sini desainer bisa mengambil peran ganda; sebagai pembuat sekaligus sebagai publik sasaran. Tata nilai subyektivitas bisa muncul pada saat desainer mengambil peran sebagai publik. Nilai kemanusiaan –seperti: hati nurani, aspirasi dan kreativitas– bisa muncul dan menjadi masukan untuk proses membuat objektif dari desain. Nilai kemanusiaan ini bisa kontributif terhadap kualitas desain pada saat desainernya secara aktif terlibat dalam dinamika publik, perhatian terhadap masalah sosial, budaya, pendidikan dan sektor lainnya. Nilai kemanusiaan ini bisa menjadi sumber inovasi desain, sehingga solusi desain bukan hanya berasal dari selera pasar yang justru menumpulkan kreativitas.

Rekayasa Masalah

Inti dari program desain adalah rekayasa masalah yang harus dimulai dari proses membentuk kekayaan pemahaman terhadap masalah. Ini mengandung kontradiksi dengan masih banyaknya yang berpandangan bahwa inti desain adalah tentang bentuk solusinya, sehingga seringkali merasa harus segera membuat sketsa dan mewujudkan visualisasinya karena merasa sudah cukup pengetahuannya terhadap masalah. Kondisi demikian membawa desainernya ke lingkup seni karena yang dilakukannya adalah langsung melompat ke proses membuat ekspresi dari masalah, tanpa mempertanyakan lebih lanjut tentang jatidiri masalahnya. Mereka yang lebih mementingkan ekspresi dari suatu permasalahan visual memang lebih cocok disebut seniman dibanding desainer.

Menikmati Kegunaan

Pada saat kita menikmati sebuah karya desain, seringkali tanpa sadar kita mengacuhkan wujud karyanya tetapi lebih termotivasi oleh kegunaannya. Seperti kata Paul Rand; “Graphic Design is the Language.” Jadi, memang desain bukan isi pesannya, ia adalah bahasa penyampai pesannya; dengan catatan bahwa kualitas bahasa juga sangat mempengaruhi tersampaikannya pesan dengan baik. Sementara di luar itu apabila kita lihat dari sudut komunikasi, seni justru menempatkan karya sebagai inti pesannya dan seniman sebagai sumber pesannya.

Sumber: Eka Sofyan Rizal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s